![]() |
| Mahasiswa Ketapang Minta SOP MBG Ramadan Lebih Adaptif dan Transparan |
SUARAMILENIALKALBARNEWS.COM (KETAPANG) –
Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 2 Matan Hilir
Utara menjadi sorotan di bulan Ramadan. Ikatan Mahasiswa Kabupaten Ketapang
(IMKK) menyampaikan perhatian terhadap komposisi menu serta mekanisme
distribusi makanan kepada siswa yang tengah menjalankan ibadah puasa.
Sorotan tersebut mencuat setelah
beredarnya foto menu MBG yang terdiri dari roti, telur rebus, dan jajanan
kemasan. Menu itu memunculkan pertanyaan publik mengenai kesesuaian standar
gizi serta efektivitas pembagian makanan di bulan puasa.
Bulan Ramadan memiliki
karakteristik khusus karena mayoritas siswa menjalankan ibadah puasa. Perubahan
pola konsumsi makanan dinilai perlu direspons dengan penyesuaian komposisi menu
maupun waktu distribusi agar program tetap relevan, bermanfaat, dan tidak
mubazir.
Anggota Kastrat (Kajian Strategi
dan Advokasi) IMKK, Rizki Januardi, menegaskan bahwa evaluasi pelaksanaan
program dalam konteks Ramadan menjadi hal penting agar kebijakan tetap tepat
sasaran.
“Program Makan Bergizi Gratis
adalah kebijakan yang baik dan patut didukung. Namun, dalam momentum bulan
Ramadan, perlu ada penyesuaian teknis baik dari sisi menu maupun waktu
pembagian. Jangan sampai tujuan peningkatan gizi tidak tercapai karena mekanisme
yang tidak adaptif terhadap kondisi siswa yang berpuasa,” tegas Rizki pada hari
Jumat (27/2/2026).
Ia menambahkan, apabila makanan
dibagikan pada jam sekolah saat siswa berpuasa, maka kualitas dan daya tahan
makanan harus benar-benar diperhatikan hingga waktu berbuka. Selain itu,
komposisi menu sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan energi saat sahur dan
berbuka, dengan keseimbangan karbohidrat, protein, vitamin, serta mineral.
IMKK mendorong beberapa langkah
perbaikan, di antaranya:
- Penyesuaian waktu distribusi makanan
menjelang jam pulang sekolah atau mendekati waktu berbuka.
- Penyusunan menu khusus Ramadan yang lebih
sesuai untuk konsumsi saat berbuka.
- Pengawasan kualitas makanan agar tetap layak
konsumsi hingga sore hari.
- Transparansi standar menu dan SOP pelaksanaan
selama bulan puasa.
Menurut Rizki, fleksibilitas
kebijakan dalam situasi tertentu bukan bentuk kelemahan, melainkan wujud
responsivitas pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat.
“Negara harus hadir dengan
kebijakan yang adaptif. Program yang baik harus mampu menyesuaikan diri dengan
konteks sosial dan keagamaan masyarakatnya,” tutupnya.
Sebagai bagian dari masyarakat sipil, mahasiswa menyatakan komitmennya untuk terus mengawal pelaksanaan kebijakan publik agar tetap efektif, akuntabel, dan benar-benar memberikan manfaat bagi peserta didik, termasuk dalam momentum bulan suci Ramadan. (tim liputan).

Social Header